Kapal
Tua Idamkan Sang Nahkoda
Buah
pena : Syifa Khairunnisa
Senja jingga yang
memerah menemani sore yang tak begitu istimewa di Kampung Nelayan Lamakera. Tak
henti-hentinya kupandangi segala hal yang berada di lautan. Kunikmati suasana
saat garam menggelitik hidung, pasir putih menyelimuti jari, dan ombak-ombak
kecil yang bergantian mencium karang dengan manjanya. Nelayan-nelayan yang lalu
lalang, sampan- sampan yang berusaha merapat, hingga rumah-rumah sederhana di
pinggir pantai, hanya ingin mengatakan, kadang mereka mengunjungi dunia yang
tak pernah kita datangi sebelumnya untuk dibawa pulang. Sungguh keindahan
sederhana yang berharga...
“Ayah!” ku melonjak
kegirangan melihat ayah membawa ikan di kedua tangannya.
“Nak, bawalah sisa ikan
yang ada di perahu untuk segera kita jual ke pasar!”
“Sip, Yah”.
Segera kusambangi
perahu ayah dan mulai memungut hasil tangkapannya satu per satu. Dengan harapan
hasil tangkapan ayah akan dihargai tinggi, aku segera mengekor ayah ke pasar
ikan tak jauh dari pantai. Sesampainya di pasar, sudah banyak sekali nelayan
dan penjual ikan saling beradu pendapat untuk menentukan harga yang sesuai.
Ayah pun menawarkan hasil tangkapannya, tak khayal para penjual yang mayoritas
merupakan tengkulak mulai menyerbu ayah.
“ Ikan gembung dan
tongkolnya 15 ribu per kilo ya?” teriak seorang wanita bertubuh tambun.
“ Saya akan ambil semua
ikan bapak dengan 20 ribu per kilo!” tawar laki-laki di sebelah ayah.
“ Bagaimana, setuju?”
Tak ingin ambil pusing,
ayah pun menyetujui tawaran yang terakhir dan bergegas pulang.
Sesampainya di rumah.
Kunyalakan lampu minyak andalanku dan mulai mengerjakan pr yang diberikan guru
Pkn tentang cita-cita berlandaskan nasionalisme. Jangan salah, anak nelayan
sepertiku juga bersekolah, walaupun hanya SMA madrasah. Setidaknya, aku harus
memiliki ijazah S3 yaitu SD, SMP, dan SMA. Aku tak ingin bernasib sama seperti
abangku Adnan Munjid yang hanya berijazah SD juga mencari nafkah sebagai
nelayan. Aku setidaknya ingin memiliki cita-cita yang lebih tinggi seperti
kakak perempuanku Aisyah yang bersikeras belajar ilmu kesehatan dan berhasil
menjadi bidan yang setiap hari menyebrangi pulau-pulau demi membantu
persalinan.
Allahu Akbar Allahu
Akbar. Asyhadu Alla ilaha illalah. Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah....
“Cal, Ical! Bangun nak,
salat subuh dulu!”
“Sudah subuh ya? Maaf Ayah
semalaman aku mengerjakan pr, salatnya nanti saja dulu ya?”
“Astaughfirullah Ical,
ingat janjimu dengan almarhum mamakmu untuk tidak meninggalkan salat!”
“Astaughfirullah,
Ayah”.
Dengan sekuat tenaga
aku berlari ke kamar mandi untuk mengambil air wudlu. Kukerjap-kerjapkan kedua
mataku agar air wudlu itu tak hanya membasahi wajahku akan tetapi juga mataku
yang masih kantuk ini. Segera kutunaikan salat subuh dengan tak henti-hentinya
mengingat wajah almarhum mamak dengan perasaan bersalah. Tak sepatutnya aku
menunda salat. Mamak berpesan kepadaku untuk terus mendoakan agar mamak
dipermudah selama di akhirat sana.
Tak ingin menunda-
nunda lagi, aku pun melanjutkan kegiatan pentingku selanjutnya. Berangkat ke
sekolah. Jam mungkin baru menunjukkan pukul 6 pagi. Tapi itu tak berarti aku
masih dapat berdiam diri. Aku harus segera ke pelabuhan kecil di ujung kampung
untuk menyebrang ke pulau dimana SMA ku berada. Butuh waktu lebih dari dua jam untuk
sampai kesana dengan perahu motor.
Sesampainya di sekolah,
aku disambut tiga kawan seperjuanganku menuntut ilmu. Walaupun kami berempat
sangat berbeda satu sama lain kami tetap satu jua. Tetap pada tujuan kami untuk
tidak mengikuti jejak orang tua kami menjadi nelayan yang hidup tak lepas dari
jerat kemiskinan. Kami berempat adalah calon orang sukses. Perkenalkan, Daffa
kawanku yang berkulit hitam dan memiliki gigi seputih susu berkeinginan untuk
menjadi seorang tentara, A Kiong yang masih keturunan cina tak henti-hentinya
bermimpi menjadi ustad yang terkenal akan dakwahnya, Nisrina gadis tomboi
bergigi gingsul sangat berambisi menjadi pilot wanita, dan aku, Faishal Azzam
menjadi gubernur DKI Jakarta yang notabene pusat negeri ini di usia muda adalah
impianku.
“Assalamualaikum anak-anak,
asik- asik?”
“Joss”.
Begitulah pembukaan
dari guru Pkn tercinta kami Bapak Abdur Arsyad yang berkerpribadian humoris,
puitis, agamis dan sekaligus nasionalis. Seperti sudah mendarah daging, tak
lengkap rasanya bagi beliau untuk tidak mengawali pelajarannya dengan sebuah
syair andalan.
“Jaya Indonesia.
Sebagai anak nelayan dari Larantuka. Saya melihat Indonesia bagai kapal tua
yang berlayar tak tahu arah. Arahnya ada, hanya nahkoda kita yang tidak bisa
membaca. Mungkin dia bisa membaca, tetapi tertutup hasrat membabi buta.
Indonesia memang kapal tua dengan penumpang berbagai rupa. Ada dari Sumatera,
Jawa, Madura, Sumbawa, hingga Papua bersatu dalam nusantara. Enam kali sudah
kita ganti nahkoda. Tetapi masih jauh dari kata sejahtera. Di pemilu
mengungguli perolehan suara dan disumpah atas nama garuda. Tetapi itu hanya
awal cerita. Cerita nyata yang terpampang di banyak media. Lapindo, Munir,
Century, dan Hambalang kami menolak lupa. Jadilah nahkoda yang mengerti
Bhinneka Tunggal Ika bukan boneka milik Amerika. Nahkoda yang mengerti suara kita,
suara kalo Indonesia bisa. Inilah cerita kapal tua kita. Ada yang tidak percaya
? Sudah percaya sajaa... ! Hahahaha”.
“Hahahahaha”
Anak-anak seketika tertawa
sambil bertepuk tangan, tak terkecuali aku yang berada di bangku paling depan masih
terpana dengan kata-kata beliau. Itulah potret negeri kita tercinta. Tak khayal
sulit di percaya, bahwa itu kenyataannya.
“Faishal Azzam!”
“Iya Pak” jawabku cepat
saking kagetnya.
“Apa cita-citamu?”
“Gubernur DKI Jakarta
Pak” jawabku lantang dengan bangganya.
Semua terdiam. Termasuk
guru Pkn yang baru saja menanyaiku. Beliau terdiam sambil berbalik menuju
tempat duduknya.
“Aduh mama sayange, apa
pula kau ini Ical? Sudah bosan kau menjadi anak nelayan? hahahaha” ejek
seseorang dengan kerasnya dari belakang dan diiringi tawa semua murid di kelas.
Teng...teng..teng..teng.
Bel sekolah pun dibunyikan. Aku pun segera berlari ke luar kelas. Namun suara
seseorang menghentikan langkahku seketika.
“Ical, kemarilah!”
“Ada apa Bapak Abdur
memanggil saya?”
“Ini untukmu. Kuharap
ini cukup untuk mempersiapkan dirimu menggapai cita-citamu” diulungkannya
sebuah buku cukup tebal bersampul kulit sapi berwarna cokelat.
“Terima kasih banyak,
Pak!”
Hari- hari berganti.
Tahun demi tahun berlalu. Tepat 25 tahun setelah keberangkatanku ke Jakarta
dengan tekat bulat menjadi seorang gubernur. Buku tebal pemberian guru Pkn yang
sangat kukagumi menemani setiap langkahku menggapai impian yang sering menjadi
bahan tertawaan. Kini aku berdiri di tempat yang terus membayang-bayangiku
selama tiga hari terakhir. Tepatnya di dalam Gedung DPRD DKI Jakarta di hari
pelantikan untuk memulai masa jabatan dengan wakilku. Di kursi paling depan,
abangku Adnan Munjid, kakak perempuanku Aisyah duduk berdampingan dengan
pasangan hidupnya masing-masing, dan tak ketinggalan istriku tercinta Nisrina
menampilkan senyum terindahnya.
Ada yang kurang. Ada
yang hilang. Ayah tidak datang. Ayah yang kuharapkan dapat menyaksikan
puteranya, putera nelayan tangguh dari Lamakera sudah menjadi nahkoda
pemerintahan di ibukota. Ayah yang selalu kupikirkan keadaannya, mulai sedang
apa, makan apa, dan bagaimana beliau menghabiskan hari tanpa adanya putera
bungsu yang dihari mudanya setia menunggu beliau pulang melaut. Beliau sakit
keras. Tak tega aku untuk memintanya pergi. Akhirnya, kuminta pamanku
satu-satunya untuk menemani beliau. Sebenarnya sudah lama ingin kuboyong ayah
ke Jakarta. Tapi apa daya, tekad ayah untuk tidak membebani kehidupan para
putera puterinya dan memilih mengisi hari tuanya tetap mengabdi menjadi nelayan
sangat kuat. Aku tak kuasa melarang.
Dengan jabatanku
sekarang, semakin sedikit waktu yang dapat kucurahkan pada keluarga. Tak
terkecuali waktuku untuk mengunjungi ayah setiap tiga bulan sekali. Delapan
bulan sudah semenjak masa jabatanku, aku belum mengunjungi ayah. Rasa rindu
setidaknya dapat berkurang sedikit dengan adanya alat komunikasi. Suara ayah
yang terdengar ramah tak henti-hentinya mengingatkanku untuk tidak meninggalkan
salat. Suatu hari kutunggu telepon dari ayah yang biasanya datang menjelang
adzan subuh. Aneh, tak ada terlepon satu pun. Telepon dan pesan singkat yang
kukirimkan, tak satupun mendapatkan balasan. Begitu terus kejadiannya, sampai
dua minggu lamanya.
“Tilulit...tilulit...tilulit”
“Assalamualaikum, Ical
ini abangmu Adnan Munjid, adik bisakah engkau pulang ke Lamakera hari ini?”
“Abang, ada apa?”
“Ayah dik, ayah telah
tiada, setidaknya berikanlah penghormatan terakhirmu kepada beliau”.
“Innalillahi
wainnalilahi roji’un”.
Tak terasa tangan ini
sudah menekan tombol untuk mengakhiri pembicaraan dengan sendirinya. Hatiku
sakit, perih melihat ayah diturunkan ke liang lahat. Tangan dan kaki ini
bergetar menahan tangis ketika mengadzani jasad beliau untuk terakhir kalinya.
Inilah bentuk rasa hormatku kepadamu ayahku, pahlawan hidupku. Kini tak dapat dipungkiri,
panggilanku sebagai yatim sekarang bertambah menjadi yatim piatu. Sungguh
terasa pilu.
Kugenggam sepucuk surat
terakhir yang ditulis ayah sebelum beliau menemui ajalnya. Kubuka perlahan
surat itu di pantai yang dihiasi langit senja, persis seperti waktu dulu aku
menunggu ayah pulang melaut. Tak kuat ku membacanya, air mataku menetes di
setiap kata-katanya.
“Anakku, kebangganku
Faishal Azzam. Allah ingin ayah segera kembali kepadaNya. Tak usah kau tangisi
kepergian ayah dan mamakmu nak. Ayah tunggu doamu di akhir salatmu. Buktikan
janjimu kepada rakyat yang telah memilihmu. Kubangga akan perjuanganmu
menggapai cita-cita. Maaf bila ayah dulu tak percaya padamu. Ayah sudah tak
butuh lagi bukti. Semua sudah terbukti. Ayah tak punya apa-apa untuk kuwariskan
padamu selain kapal tua yang menjadi saksi bisu ayah membesarkan abang, kakak
perempuanmu, dan dirimu tanpa adanya mamak disampingku. Kutitipkan kapal tua
yang telah kuperbaiki kepadamu. Ical, kapal tua itu juga butuh nahkoda
sepertimu”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar