Sabtu, 01 November 2014

Kapal Tua Idamkan Sang Nahkoda



Kapal Tua Idamkan Sang Nahkoda

                                                                                             Buah pena : Syifa Khairunnisa
 

Senja jingga yang memerah menemani sore yang tak begitu istimewa di Kampung Nelayan Lamakera. Tak henti-hentinya kupandangi segala hal yang berada di lautan. Kunikmati suasana saat garam menggelitik hidung, pasir putih menyelimuti jari, dan ombak-ombak kecil yang bergantian mencium karang dengan manjanya. Nelayan-nelayan yang lalu lalang, sampan- sampan yang berusaha merapat, hingga rumah-rumah sederhana di pinggir pantai, hanya ingin mengatakan, kadang mereka mengunjungi dunia yang tak pernah kita datangi sebelumnya untuk dibawa pulang. Sungguh keindahan sederhana yang berharga...
“Ayah!” ku melonjak kegirangan melihat ayah membawa ikan di kedua tangannya.
“Nak, bawalah sisa ikan yang ada di perahu untuk segera kita jual ke pasar!”
“Sip, Yah”.
Segera kusambangi perahu ayah dan mulai memungut hasil tangkapannya satu per satu. Dengan harapan hasil tangkapan ayah akan dihargai tinggi, aku segera mengekor ayah ke pasar ikan tak jauh dari pantai. Sesampainya di pasar, sudah banyak sekali nelayan dan penjual ikan saling beradu pendapat untuk menentukan harga yang sesuai. Ayah pun menawarkan hasil tangkapannya, tak khayal para penjual yang mayoritas merupakan tengkulak mulai menyerbu ayah.
“ Ikan gembung dan tongkolnya 15 ribu per kilo ya?” teriak seorang wanita bertubuh tambun.
“ Saya akan ambil semua ikan bapak dengan 20 ribu per kilo!” tawar laki-laki di sebelah ayah.
“ Bagaimana, setuju?”
Tak ingin ambil pusing, ayah pun menyetujui tawaran yang terakhir dan bergegas pulang.
Sesampainya di rumah. Kunyalakan lampu minyak andalanku dan mulai mengerjakan pr yang diberikan guru Pkn tentang cita-cita berlandaskan nasionalisme. Jangan salah, anak nelayan sepertiku juga bersekolah, walaupun hanya SMA madrasah. Setidaknya, aku harus memiliki ijazah S3 yaitu SD, SMP, dan SMA. Aku tak ingin bernasib sama seperti abangku Adnan Munjid yang hanya berijazah SD juga mencari nafkah sebagai nelayan. Aku setidaknya ingin memiliki cita-cita yang lebih tinggi seperti kakak perempuanku Aisyah yang bersikeras belajar ilmu kesehatan dan berhasil menjadi bidan yang setiap hari menyebrangi pulau-pulau demi membantu persalinan.
Allahu Akbar Allahu Akbar. Asyhadu Alla ilaha illalah. Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah....
“Cal, Ical! Bangun nak, salat subuh dulu!”
“Sudah subuh ya? Maaf Ayah semalaman aku mengerjakan pr, salatnya nanti saja dulu ya?”
“Astaughfirullah Ical, ingat janjimu dengan almarhum mamakmu untuk tidak meninggalkan salat!”
“Astaughfirullah, Ayah”.
Dengan sekuat tenaga aku berlari ke kamar mandi untuk mengambil air wudlu. Kukerjap-kerjapkan kedua mataku agar air wudlu itu tak hanya membasahi wajahku akan tetapi juga mataku yang masih kantuk ini. Segera kutunaikan salat subuh dengan tak henti-hentinya mengingat wajah almarhum mamak dengan perasaan bersalah. Tak sepatutnya aku menunda salat. Mamak berpesan kepadaku untuk terus mendoakan agar mamak dipermudah selama di akhirat sana.
Tak ingin menunda- nunda lagi, aku pun melanjutkan kegiatan pentingku selanjutnya. Berangkat ke sekolah. Jam mungkin baru menunjukkan pukul 6 pagi. Tapi itu tak berarti aku masih dapat berdiam diri. Aku harus segera ke pelabuhan kecil di ujung kampung untuk menyebrang ke pulau dimana SMA ku berada. Butuh waktu lebih dari dua jam untuk sampai kesana dengan perahu motor.
Sesampainya di sekolah, aku disambut tiga kawan seperjuanganku menuntut ilmu. Walaupun kami berempat sangat berbeda satu sama lain kami tetap satu jua. Tetap pada tujuan kami untuk tidak mengikuti jejak orang tua kami menjadi nelayan yang hidup tak lepas dari jerat kemiskinan. Kami berempat adalah calon orang sukses. Perkenalkan, Daffa kawanku yang berkulit hitam dan memiliki gigi seputih susu berkeinginan untuk menjadi seorang tentara, A Kiong yang masih keturunan cina tak henti-hentinya bermimpi menjadi ustad yang terkenal akan dakwahnya, Nisrina gadis tomboi bergigi gingsul sangat berambisi menjadi pilot wanita, dan aku, Faishal Azzam menjadi gubernur DKI Jakarta yang notabene pusat negeri ini di usia muda adalah impianku.
“Assalamualaikum anak-anak, asik- asik?”
“Joss”.
Begitulah pembukaan dari guru Pkn tercinta kami Bapak Abdur Arsyad yang berkerpribadian humoris, puitis, agamis dan sekaligus nasionalis. Seperti sudah mendarah daging, tak lengkap rasanya bagi beliau untuk tidak mengawali pelajarannya dengan sebuah syair andalan.
“Jaya Indonesia. Sebagai anak nelayan dari Larantuka. Saya melihat Indonesia bagai kapal tua yang berlayar tak tahu arah. Arahnya ada, hanya nahkoda kita yang tidak bisa membaca. Mungkin dia bisa membaca, tetapi tertutup hasrat membabi buta. Indonesia memang kapal tua dengan penumpang berbagai rupa. Ada dari Sumatera, Jawa, Madura, Sumbawa, hingga Papua bersatu dalam nusantara. Enam kali sudah kita ganti nahkoda. Tetapi masih jauh dari kata sejahtera. Di pemilu mengungguli perolehan suara dan disumpah atas nama garuda. Tetapi itu hanya awal cerita. Cerita nyata yang terpampang di banyak media. Lapindo, Munir, Century, dan Hambalang kami menolak lupa. Jadilah nahkoda yang mengerti Bhinneka Tunggal Ika bukan boneka milik Amerika. Nahkoda yang mengerti suara kita, suara kalo Indonesia bisa. Inilah cerita kapal tua kita. Ada yang tidak percaya ? Sudah percaya sajaa... ! Hahahaha”.
“Hahahahaha”
Anak-anak seketika tertawa sambil bertepuk tangan, tak terkecuali aku yang berada di bangku paling depan masih terpana dengan kata-kata beliau. Itulah potret negeri kita tercinta. Tak khayal sulit di percaya, bahwa itu kenyataannya.
“Faishal Azzam!”
“Iya Pak” jawabku cepat saking kagetnya.
“Apa cita-citamu?”
“Gubernur DKI Jakarta Pak” jawabku lantang dengan bangganya.
Semua terdiam. Termasuk guru Pkn yang baru saja menanyaiku. Beliau terdiam sambil berbalik menuju tempat duduknya.
“Aduh mama sayange, apa pula kau ini Ical? Sudah bosan kau menjadi anak nelayan? hahahaha” ejek seseorang dengan kerasnya dari belakang dan diiringi tawa semua murid di kelas.
Teng...teng..teng..teng. Bel sekolah pun dibunyikan. Aku pun segera berlari ke luar kelas. Namun suara seseorang menghentikan langkahku seketika.
“Ical, kemarilah!”
“Ada apa Bapak Abdur memanggil saya?”
“Ini untukmu. Kuharap ini cukup untuk mempersiapkan dirimu menggapai cita-citamu” diulungkannya sebuah buku cukup tebal bersampul kulit sapi berwarna cokelat.
“Terima kasih banyak, Pak!”
Hari- hari berganti. Tahun demi tahun berlalu. Tepat 25 tahun setelah keberangkatanku ke Jakarta dengan tekat bulat menjadi seorang gubernur. Buku tebal pemberian guru Pkn yang sangat kukagumi menemani setiap langkahku menggapai impian yang sering menjadi bahan tertawaan. Kini aku berdiri di tempat yang terus membayang-bayangiku selama tiga hari terakhir. Tepatnya di dalam Gedung DPRD DKI Jakarta di hari pelantikan untuk memulai masa jabatan dengan wakilku. Di kursi paling depan, abangku Adnan Munjid, kakak perempuanku Aisyah duduk berdampingan dengan pasangan hidupnya masing-masing, dan tak ketinggalan istriku tercinta Nisrina menampilkan senyum terindahnya.
Ada yang kurang. Ada yang hilang. Ayah tidak datang. Ayah yang kuharapkan dapat menyaksikan puteranya, putera nelayan tangguh dari Lamakera sudah menjadi nahkoda pemerintahan di ibukota. Ayah yang selalu kupikirkan keadaannya, mulai sedang apa, makan apa, dan bagaimana beliau menghabiskan hari tanpa adanya putera bungsu yang dihari mudanya setia menunggu beliau pulang melaut. Beliau sakit keras. Tak tega aku untuk memintanya pergi. Akhirnya, kuminta pamanku satu-satunya untuk menemani beliau. Sebenarnya sudah lama ingin kuboyong ayah ke Jakarta. Tapi apa daya, tekad ayah untuk tidak membebani kehidupan para putera puterinya dan memilih mengisi hari tuanya tetap mengabdi menjadi nelayan sangat kuat. Aku tak kuasa melarang.
Dengan jabatanku sekarang, semakin sedikit waktu yang dapat kucurahkan pada keluarga. Tak terkecuali waktuku untuk mengunjungi ayah setiap tiga bulan sekali. Delapan bulan sudah semenjak masa jabatanku, aku belum mengunjungi ayah. Rasa rindu setidaknya dapat berkurang sedikit dengan adanya alat komunikasi. Suara ayah yang terdengar ramah tak henti-hentinya mengingatkanku untuk tidak meninggalkan salat. Suatu hari kutunggu telepon dari ayah yang biasanya datang menjelang adzan subuh. Aneh, tak ada terlepon satu pun. Telepon dan pesan singkat yang kukirimkan, tak satupun mendapatkan balasan. Begitu terus kejadiannya, sampai dua minggu lamanya.
“Tilulit...tilulit...tilulit”
“Assalamualaikum, Ical ini abangmu Adnan Munjid, adik bisakah engkau pulang ke Lamakera hari ini?”
“Abang, ada apa?”
“Ayah dik, ayah telah tiada, setidaknya berikanlah penghormatan terakhirmu kepada beliau”.
“Innalillahi wainnalilahi roji’un”.
Tak terasa tangan ini sudah menekan tombol untuk mengakhiri pembicaraan dengan sendirinya. Hatiku sakit, perih melihat ayah diturunkan ke liang lahat. Tangan dan kaki ini bergetar menahan tangis ketika mengadzani jasad beliau untuk terakhir kalinya. Inilah bentuk rasa hormatku kepadamu ayahku, pahlawan hidupku. Kini tak dapat dipungkiri, panggilanku sebagai yatim sekarang bertambah menjadi yatim piatu. Sungguh terasa pilu.
Kugenggam sepucuk surat terakhir yang ditulis ayah sebelum beliau menemui ajalnya. Kubuka perlahan surat itu di pantai yang dihiasi langit senja, persis seperti waktu dulu aku menunggu ayah pulang melaut. Tak kuat ku membacanya, air mataku menetes di setiap kata-katanya.
“Anakku, kebangganku Faishal Azzam. Allah ingin ayah segera kembali kepadaNya. Tak usah kau tangisi kepergian ayah dan mamakmu nak. Ayah tunggu doamu di akhir salatmu. Buktikan janjimu kepada rakyat yang telah memilihmu. Kubangga akan perjuanganmu menggapai cita-cita. Maaf bila ayah dulu tak percaya padamu. Ayah sudah tak butuh lagi bukti. Semua sudah terbukti. Ayah tak punya apa-apa untuk kuwariskan padamu selain kapal tua yang menjadi saksi bisu ayah membesarkan abang, kakak perempuanmu, dan dirimu tanpa adanya mamak disampingku. Kutitipkan kapal tua yang telah kuperbaiki kepadamu. Ical, kapal tua itu juga butuh nahkoda sepertimu”.